Kepulauan Kei merupakan gugusan kepulauan  yang dibentuk dari  limes stones dan batu  kapur. Ciri utama kondisi fisik  lahan 85,84 % adalah lahan kurang subur. Ciri lain dari wilayah ini yakni potensi sumberdaya laut yang heterogen, karena diapit kepulauan  Laut Arafuru, laut Banda serta wilayah Papua dan Australia, yang kaya akan sumberdaya laut.

Kepulauan Kei terbagi menjadi 2 wilayah pemerintahan yakni Kabupaten Maluku Tenggara dan Kota Tual.

Kondisi alam Kepulauan Kei yang terdiri dari pulau-pulau kecil, memiliki karakteristik yang berbeda dengan pulau-pulau besar, yang mana kondisi tanah yang  kurang subur karena mayoritas pulau-pulau dimaksud adalah pulau karang, sehingga potensi andalan  ada di laut, sedangkan  potensi darat hanya dikelola untuk kepentingan persediaan pangan.

Kondisi alam Laut yang indemik dengan karakter pulau-pulau kecil dengan berbagai kekayaan alam lautnya, baik dibidang perikanan maupun pengembangan wisata bahari adalah andalan Kabupaten Maluku Tenggara dan kota Tual.

Sejarah peradaban masyarakat Kei membuktikan bahwa mayoritas masyarakat Kei adalah hasil migrasi masyarakat Jawa dan Bali pada zaman dahulunya, hal ini terlihat dari kemiripan budaya dan pagelaran ritual adat yang mirip dengan budaya dan ritual adat orang Bali.

Masyarakat Kepulauan Kei  juga masih menjunjung tinggi hukum adat yang disebut Hukum Adat Larwul Ngabal, Hukum adat ini mengatur tentang larangan membunuh, kesusilaan, dan perlindungan hak milik orang. Perpaduan budaya Jawa dan Bali kuno dengan budaya lokal serta budaya Tidore dan Ternate  memberikan keunikan tersendiri bagi budaya dan tatanan hidup masyarakat Kei.

  1.  SENI DAN TARI

Mayoritas masyarakat Kei adalah migrasi masyarakat Jawa dan Bali pada zaman dahulu. Hal ini berpengaruh terhadap budaya seni dan tari yang dikembangkan hingga saat ini, walaupun perkembangannya tidak mengikuti perkembangan seni dan tari masyarakat Jawa dan Bali setelah migrasi, namun berbagai seni tari yang ada memiliki keunikan tersendiri, karena merupakan perpaduan seni tari Jawa dan Bali kuno, masyarakat lokal, serta budaya Tidore dan Ternate.

Keunikan budaya seni dan tari ini masih terus dilestarikan,  sehingga memiliki daya tarik tersendiri bagi pecinta seni dan tari tradisional.

2. BUDAYA LOMBA BELAN

Belan adalah nama salah satu jenis perahu orang Kei yang biasanya dimiliki oleh masing-masing marga, kampung (desa) maupun ratskap (raja) dengan nama masing-masing. Belan digunakan sebagai Armada perang saman dulu, juga sebagai alat transportasi antar pulau dan antarkampung. Belan dalam perkembangan budaya Kei dikenal dua jenis belan, yakni belan lomba kecepatan dan belan hias.

Pegelaran belan biasa dilakukan pada event-event tertentu dan merupakan pesta rakyat yang sangat diminati orang Kei, baik lomba belan adu kecepatan maupun lomba belan Hias.

Belan adu kecepatan merupakan lambang ketangkasan warga ratskap, ohoi atau marga. Sementara belan Hias adalah lambang kebesaran seorang raja, ataupun  seorang kepala Ohoi (kepala kampung).

3. TABOB(PENYU BELIMBING)

Tabob adalah sebutan orang Kei terhadap  penyu belimbing, jenis penyu yang panjangnnya mencapai 2,5 meter dan berat mencapai 1.500 kg ini  merupakan salah satu satwa yang dilindungi karena terancam punah. Jenis penyu ini  ternyata menurut kepercayaan masyarakat Kei, memiliki keeratan hubungan dengan komunitas masyarakat adat Nu Fit Roa (kawasan pesisir barat selatan pulau Kei Kecil). konon menurut legenda yang berkembang di masyarakat Kei, jenis penyu ini merupakan salah satu rampasan perang antara leluhur Nu Fit Roa (Tobi dan Tobai) dengan Raja Karas di Papua, sehingga satwa ini dianggap sebagai bagian dari masyarakat adat Nu Fit Roa.

Tabob atau penyu belimbing dianggap oleh komunitas masyarakat adat Nu Fit Roa sebagai Ub atau leluhur dan juga makanan pusaka yang  dikonsumsi, namun saat ini  masyarakat mulai sadar akan ancaman kepunahan, sehingga volume penangkapan mulai berkurang sejak 4 tahun terakhir.

Keeratan hubungan tabob dengan masyarakat adat Nu Fit Roa dapat terlihat dengan bagaimana jinaknya  satwa ini bila dipanggil dengan ritus adat, tabob akan muncul keprmukaan air sehingga dapat disaksikan dari jarak dekat, selain itu tabob dapat disuruh berbalik dan menganggkat kepala.

Tabob biasanya muncul di perairan Nu Fit Roa  pada bulan September hingga Februari.

4. PESONA METI KEI.

Meti Kei adalah sebutan pasang surut besar yang hanya ada di kepulauan Kei, pada bulan September dan Oktober.

Meti Kei Memiliki keunikan tersendiri bentangan  pasang surut yang luas, pasir putih yang indah, tumpukan karang  terlihat di tengah laut serta masyarakat yang serius mencari kerang dan ikan menjadi pemandangan yang unik dan indah.

Wilayah  perairan pesisir  Kei juga memiliki keunikan tersendiri bila dibandingkan  wilayah lain, hal ini disebabkan karena Kepulauan Kei merupakan kumpulan pulau-pulau karang Kecil  yang memiliki  keunikan dan karakteristik tersendiri termasuk jenis-jenis biota lautnya.

Keunikan dan keindahan ini memiliki daya tarik tersendiri untuk dinikmati.